Cerita Diagnosa Part 2
Lanjut...
Saat itu saya mengambil izin kuliah untuk 1 minggu ke depan (dengan siap ganti kuliah dan tugas yang menumpuk setelah saya masuk) saya dan ibu mau fokus cari tau apa yang terjadi di tubuh saya. Setelah keesokan harinya sesuai permintaan dokter saya kembali berkonsultasi, dan karena hasil ronsen belum juga keluar akhirnya dokter lagi-lagi hanya memberikan obat perangsang kencing. Saya dan ibu pun pulang dengan benak penuh tanya. Kejadiannya lagi-lagi berulang, setiap obat habis perubahan tubuh pun terus datang. bahkan yang ketiga ini ditambah kencing saya tidak keluar sama sekali walaupun diberi obat kencing.
Penasaran dengan hasil ronsennya akhirnya kakak saya pun memaksa pihak laboratorium klinik untu segera mengeluarkan hasilnya. Pada saat itu kami sadar bahwa hasil ronsen itu sudah jadi sejak lama, namun petugas lab yang jaga selalu berganti orang dan selalu bilang "belum jadi pak" ke kakak saya. Pelayanannya sangat mengecewakan, di saat yang sama kami langsung menemui dokter yang sama. dan ketika dibacakan hasilnya "ini adik bapak kena paru-paru basah ya dan ada gejala tipus" dengan penasaran kakak saya balik nanya "hubungannya apa dok sama bengkak badan adik saya. lalu kenapa setelah di kasih obat malah tambah menjadi-jadi begini?" dokter kembali menunjukan hasil ronsen yang cuma dia terawang di cahaya jendela "paru-parunya tidak terlihat karena cairan pak. jadi ini fix paru-paru bahas".
Saya tau kakak saya masih tidak puas tapi melihat muka dokter yang begitu menyebalkan akhirnya bilang "terus adik saya harus gimana dok?" dokter hanya menuliskan resep lalu bilang "ini pak saya kasih obat bengkaknya lagi ya. tiga hari lagi tolong kembali kotrol kesini saya mau liat perkembangannya". Dengan setengah hati kami pun manut apa kata dokter. Dalam waktu 3 hari prediksi dokter bengkak saya pun tak kunjung hilang dan ketika kembali ke klinik. Alhamdulillah hari itu bukan dokter biasanya yang jaga. Kali ini dokternya baik hati, ramah, telaten, dan yang pasti dia muslim karena memakai jilbab. Sengaja saya bawa lagi hasil ronsennya karena saya fikir mungkin saja dibutuhkan.
"loh ini bukan paru-paru basah pak bu... Anak ibu ini paru-parunya memang terendam cairan. tapi bukan paru-paru basah. dari bengkaknya saya kira ini karena ada gangguan di fungsi ginjalnya (sambil memegang kaki saya). Untuk memastikan saya kasih rujukan ke spesialis penyakit dalam ya pak.. nanti adik bapak bisa di cek untuk memastikan diagnosanya. dan obat-obatnya jangan diminum ya sampai diagnosanya keluar. Saya takut malah membahayakan" Seperti akan menemukan kepastian penyebab badan saya, hari itu juga kami pun langsung datang ke RS yang lebih besar di Kota di Bogor. Ketemu Dr. Arief (maaf lupa nama lengkapnya) spesialis penyakit dalam di RS Karya Bhakti Bogor (sekarang jadi RSUD) beliau mengecek saya secara keseluruhan (urin dan darah) serta memastikan tipe pembengkakan di tubuh saya dengan memegang kaki dan bertanya intensitas kencing saya. Saat itu hasil cek laboratorium Protein urin +8/>500 mg/dL (normal'y -/<0 mg/dl) Albumin darah 0.2 g/dL (normal'y 3.2-4.1 g/dL).
"Begini pak, dari semua hasilnya adik bapak ini menderita Neufrotic Syndrome. Salah satu gangguan pada fungsi ginjal" kakak langsung reflek "jadi bener dok adik saya kena ginjal?" dokter menenangkan "Jangan khawatir ya pak. Ginjal adik bapak ini sehat dan masih baik sekali funsi'y. hanya saja ada sedikit masalah pada penyaringnya. Sehingga protein dan zat-zat baik yang seharusnya di serap tubuh malah terbuang bersama urin. Itu yang menyebabkan badan adik bapak bengkak." dokter pun menjelaskan NS jarang sekali di derita oleh orang dewasa. Penyakit langka dengan pebandingan 1:100 tapi sudah ada obatnya. Namun jika pasien memiliki riwayat NS, maka pasien tersebut harus mulai disiplin dalam pengobatan dan menjaga pola hidupnya.
"Karena NS ini adik bapak akan rentan terkena virus, naik turun berat badan secara drastis, dan memiliki tekanan darah yang kadang-kadang tidak terkontrol. Jadi tolong di jaga ya pak. Untuk sekarang saya beri obat untuk bengkak, pengencer darah, dan rentan virus dulu. Jika masih bengkak dalam waktu 3 hari setelah minum obat terpaksa harus di rawat ya pak". Kakak dan Ibu saya manut, dan cerita kalau saya sempat di diagnosa paru-paru basah dengan menunjukan hasil ronsen, dan dokter pun menjawab dengan hal yang sama dengan dokter berjilbab di klinik itu. Ibu ngelus dada "Alhamdulillah paru-parunya gak sakit kan dok? sambil berkaca-kaca. Dokter tersenyum "Ibu jangan khawatir ya. ini ada obatnya kok yang penting adik jangan bandel ya, pola makan dan hidupnya dijaga. harus bikin pola hidup sehat dari sekarang. Mahasiswa mah harusnya tau ya yang mana yang benar?"
Pikiran saya kosong... meski mendengarkan dan mengingat semua ucapan tapi yang saya rasa hanya "TAKUT dan SAKIT" dan terbesit dalam pikiran (bagaimana saya sering makan makanan instan ketika di kosan, bagaimana saya suka jajan sembarangan, bagaimana saya suka minum minuman kemasan berwarna bersoda isotonik. Ya Allah apa ini balasan juga karena saya nakal dan sering membantah ke orang tua. Apakah kesalahan saya begitu besar, sampai saya harus dihukum seperti ini". Sepanjang perjalanan pun dan sampai di rumah kakak saya hanya diam, lalu mengurung diri di kamar. Saya menangis membenturkan kepala ke tembok dan berkata bodoh..bodoh..bodoh... sampai saat azan magrib datang saya sholat menangis sekencang-kencangnya. Ampuni hamba Ya Allah.. hamba sadar ini karena hamba banyak berdosa".
Mohon maaf ya buat pembaca. Saya terbawa suasana mengenang masa itu. Mungkin terlihat saya terlalu mendramatisir cerita, tapi begitulah apa yang saya alami dan rasakan. Sebagai pembelajarann, semoga teman-teman sekalian dapat mengambil hikmah dari cerita saya ini mulai menjaga diri mulai sekarang. Jangan langsung panik ketika didiagnosa oleh dokter, cari tau atau berpindah dokter untuk memastikan. Dan dari semua itu menjaga diri dan rohani adalah yang paling utama. Teruslah sehat.. Teruslah berbakti ke orang tua.. Teruslah mendekatkan diri sama Allah SWT. Sesungguhnya apapun yang terjadi pada kita, dan badan kita, pada hidup kita semua itu datangnya dari Allah.
Terima kasih sudah membaca
Salam Hangat
Casti Hasan Sanapi
Komentar
Posting Komentar