Cerita Diagnosa part 1
Pertama kali divonis sebagai penderita Neufrotic Syndrome sejak tahun 2010 (mohon maaf tepat bulannya saya lupa). Sebelum akhirnya divonis sebagai penderita aktif, saya mengalami banyak sekali keluhan pada kesehatan. Mulai dari daya tahan tubuh yang naik turun, gampang sakit karena virus (tipus, herpes, dan yang paling sering flu batuk yang tak kunjung sembuh sampai berbulan-bulan). Bahkan perubahan yang sering terlihat adalah bengkaknya kelopak mata dan bagian perut sampai kaki (sakit, tak bisa ditekan, kencang, berat dibawa gerak pokoknya sangat tidak nyaman). Pada saat itu saya masih menjadi mahasiswa semester 4 (ini adalah awal semester yang penuh perjuangan). Hidup sebagai mahasiswa dengan kesibukan tugas dan kegiatan di kampus dan membawa penyakit kemana-kemana serta jauh dari orang tua (tapi ada kakak yang bekerja deket kampus).
Suatu pagi ketika saya bangun tidur, bagian wajah seperti mata dan rahang seketika kaku dan tak bisa digerakan. Saat melihat cermin saya kaget ternyata wajah saya berubah. kelopak mata bengkak seperti di pukul, kantung mata 2 lekukan sangat lebab seperti habis nangis 2 hari, dan kedua pipi menggembung seperti sedang mengemut permen lolipop. Ya Allah membayangkan hal itu saja rasanya sedih, teringat bagaimana ketakutan dan hancurnya saya waktu itu. Ada apa dengan saya? Ada apa dengan wajah saya? Apa tidur saya terlalu nyenyak sampai digigit tawon pun saya gak sadar? atau ada nyamuk pembawa virus? atau ini cuma mimpi? atau mata minus ku tambah parah dan salah liat? Saat itu saya bingung saya harus apa dan kemana. Setelah beberes kamar dan siap-siap dengan muka yang tak karuan saya hanya tutupi dengan masker dan pergi ketemu kakak. Saya menangis dan memperlihatkan wajah ke kakak. Kakak pun bingung tapi tetap mencoba menenangkan saya terlebih dahulu. Setelah itu kami langsung pergi ke klinik terdekat dari kampus, sesampainya disana dokter hanya bilang "gak usah panik, ini karena kamu alergi. malemnya habis makan apa?" saya ingat malam sebelumnya sama pulang larut karena ikut kegiatan mahasiswa dan makan angkringan di pinggir jalan sama teman. saya jawab "nasi kucing dok" dengan tersenyum sambil menulis resep dokter bilang "ini saya kasih obat alergi, sama obat kencing dan antibiotik. supaya wajahnya jadi cantik lagi ya.." huuuu.... perasaan saya sedikit lega, walaupun rasanya masih tidak nyaman dengan muka seperti ini. Setelah meminum obat dari dokter, ini pertama kalinya saya mengalami kencing terus menerus, bahkan 2-3x dalam 5 menit dan banyak. Tapi setelah petang datang, wajah saya pun sudah kembali. Lega rasanya....
Namun 3 hari setelah itu mimpi buruk yang sama terjadi lagi, ditambah tidak hanya perubahan wajah tapi perut saya rasanya begah (mual dan muntah2) bahkan makanpun tak masuk sama sekali dan kedua betis sampai mata kaki pun membesar (bengkak dan kencang tapi tidak seperti kaki gajah). Teman pun takut memegang kaki saya karena saya terus berteriak kesakitan apalagi saat bergerak. Tapi saya mencoba untuk tetap tegar karena saya harus kuliah bagaimanapun caranya. Akhirnya pergi ke kampus dengan menahan sakit dan malu dengan pandangan rasa kasihan dan bertanya-tanya dari lingkungan sekitar. Sabar-sabar habis ini selesai langsung ke kakak lagi. Berhubung laporan menumpuk dan kakak pun lembur akhirnya saya tahan sakitnya sampai besok pagi. Ingat bagaimana malam itu saya ditemani teman yang begitu baik di kosan. Menenangkan saya saat kesakitan dan selalu bertanya apa yang saya butuhkan. Terima kasih Tika dan Tari.. terharu sekali kalau ingat itu..
Keesokannya saya langsung ke kakak sebelum kakak berangkat kerja dan kakak cuma bilang "Astagfirullah.... sejak kapan? kenapa gak ngabarin klo kondisinya sudah kaya gini" hanya cuma menagis dan bingung menjelaskannya. "sakit kak..." T_T
Kembali ke klinik sebelumnya dan bertemu dengan dokter yang sama. Kali ini sedikit setengah hati saya berobat ke dokter ini. Saat saya mengeluh sakit dia tidak memegang saya sama sekali. hanya melihat dan menyuruh suster yang memegang kaki saya. "Coba di cek darah dan ronsen ya.." ya baik lah. mungkin dokter mau memastikan penyakit saya. Masih di klinik yang sama dengan fasilitas laboratorium nya saya pun di cek berdasarkan data yang diminta dokter. Saya ingat waktu itu saya di ronsen di bagian paru-paru dan cek darah dengan parameter haemoglobin untuk melihat saya kena tipus atau bukan? Namun di klinik tersebut hasilnya tidak langsung jadi dan lama sekali keluar (sampai 2 minggu). Jadi untuk sementara dokter hanya memberi saya obat kencing dulu untuk mengurangi bengkak dan beberapa antibiotik, selain itu dokter juga memberi nomor telponnya dengan berkata "jika masih bengkak bisa tanyakan lewat telpon/sms ya" saya cuma bisa manut-manut, hanya dikasih resep untuk 4 hari. Memang dalam waktu 1 hari saja setelah minum obat dan kencing berkali-kali tubuh saya langsung kembali seperti semula. Namun 3 hari selelah obat habis, tubuh saya mengalami hal sama kembali bahkan rasanya lebih sakit.
Karena khawatir akhirnya ibu pun datang untuk menjenguk saya. Saat saya mengeluh ibu menyuruh coba telpon dokter ya harus gimana, dan ketika saya telpon dan bercerita dokter cuma bilang "besok ke klinik lagi ya" (dalam hati saya berkata ini bukan saya dikerjain untuk dapet uang kan?). Perasaan saya bener-bener tidak karuan ditambah melihat ibu dan kakak yang juga menangis melihat kondisi saya. Ya Allah sebenarnya saya kemana?
Komentar
Posting Komentar